Pola kuman dari data kultur darah, urine, sputum, sekret dan/pus serta kepekaannya terhadap berbagai antimikroba dibandingkan dengan data penjualan antimikroba di RSK Santo Vincentius A Paulo Surabaya

., Susan (2003) Pola kuman dari data kultur darah, urine, sputum, sekret dan/pus serta kepekaannya terhadap berbagai antimikroba dibandingkan dengan data penjualan antimikroba di RSK Santo Vincentius A Paulo Surabaya. [Undergraduate thesis]

[img]
Preview
PDF
F_1343_Abstrak.pdf

Download (94Kb) | Preview
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/150512

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pola kepekaan kuman dari data kultur darah, urine, sputum, sekret dan pus terhadap antimikroba di Laboratorium Mikrobiologi RSK St Vincentius a Paulo Surabaya. Pengamatan dilakukan terhadap arsip data darah, urine, sputum, sekret dan pus di laboratorium tersebut pada periode I Januari 2001 sampai 31 Desember 2001. Selama periode waktu tersebut telah diperiksa 284 sampel darah terdeteksi 34 (11,97%) isolat bakteri; dari 2662 sampel urine terdeteksi 758 (28,47%) isolat bakteri; dari 310 sampel sputum terdeteksi 255 (82,26%) isolat bakteri; dari 81 sampel sekret terdeteksi 71 (87,65%) isolai bakteri dan dari 154 sampel pus terdeteksi 128 (83,12%) isolat bakteri. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah jenis bakteri, antimikroba yang diujikan, kepekaan kuman terhadap antimikroba, data ku1tur darah, urine, sputum, sekret dan pus serta kecocokan antara hasil uji kepekaan terhadap antimikroba yang digunakan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut, jenis kuman yang paling banyak diisolasi dari kultur-kultur (darah, urine, sputum, sekret dan pus) pas1cn adalah E. coli (25,76%) diikuti oleh Pseudomonas spp. (17,34%), Klebsiella Spp.( 13,88%), dan Staphylococcus aureus (9,31%). Untuk isolat Staphylococcus aureus, kepekaan tertinggi ditunjukkan oleh kombinasi piperasilin dan tazobactam (sensitif 100%) dan vancomisin (sensitif 90%). Isolat Streptococcus pneumoniae, antimikroba yang paling efektif adalah amoksisilin (sensitif 97%) dan teikoplanin (scnsitif 96%). Untuk isolat Staphylococcus γ hemolitik, kepekaan tertinggi diunjukkan oleh amoksisilin (sensitif 94%). Untuk isolat Staphylococcus epidermidis, kepekaan ditunjukkan terhadap kloksasilin. Sedangkan untuk isolat Staphylococcus aureus, antimikroba yang paling efektif adalah vankomisin (sensitif 96%). Untuk isolat Streptococcus, α hemolitik antimikroba yang paling efektif adalah amoksisilin (sensitif 92%) dan untuk isolat Streptococcus β hemolitik, antimikroba yang paling efektif ditunjukkan oleh dibekasin (sensitif 100%). Untuk isolat E. coli, antimikroba yang paling elektif adalah imipenem (sensitif 98%) dan kombinasi piperasilin dan tazobactam (sensit1f 98%). Sedangkan untuk isolat Pseudomonas spp., antimikroba yang paling efektif adalah cefepime (sensitif 82%). Untuk isolat Klebsiella spp., antimikroba yang paling efcktif adalah amikasin (sensitif 91%) dan meropenem (sensitif 90%). Isolat Acinetobacter anitratus, kepekaan tertinggi ditunjukkan oleh meropenem (sensitif 88%) dan cefepime (sensitif 83%). Untuk isolat Proteus spp., antimikroba yang paling efektif adalah ciprofloksasin (sensitif 95%) dan fleroxacin (sensitif 92% ). Berdasarkan tabel XVIII cefotaxime merupakan antimikroba yang paling banyak terjual (25953 satuan). Antimikroba ini masih cukup efektif (> 60%), hanya terhadap bakteri tertentu seperti Acinetobacter anitratus, Enterohacter spp. dan Pseudomonas spp., efektivitasnya kurang dari 60%. Pseudomonas spp. merupakan bakteri yang berada pada urutan kedua terbanyak di RSK St. Vincentius a Paulo Surabaya selama tahun 2001. Sedangkan terhadap bakteri E. coli (bakteri yang paling sering menginfeksi pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan di RSK St. Vincentius a Paulo Surabaya selama tahun 2001), cefotaxime menunjukkan efektivitas sebesar 87%. Kombinasi piperasilin & tazobactam, fosfomisin, amikasin, nmpenem, vancomisin, teikoplanin, meropenem, dibekasin dan cefepime merupakan antimikroba yang efektivitasnya baik terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif tetapi data penjualannya di Instalasi Farmasi RSK St. Vincentius rendah (jarang diresepkan) bahkan tidak ada penjualannya selama tahun 2001. Terapi empiris antimikroba, dapat diberikan antimikroba tunggal atau majemuk. Sebagai terapi antimikroba majemuk dapat diberikan kombinasi piperasilin dan tazobactam. Untuk terapi terhadap infeksi bakteri Gram positif dapat dipilih kombinasi piperasilin & tazobactam, vancomisin, teikoplanin, fosfomisin, cefotaxime, amoksisilin, dibekasin, ampisilin, klindamisin dan kloksasilin. Untuk terapi terhadap infeksi bakteri Gram negatif dapat dipilih amikasin, imipenem, kombinasi piperasilin & tazobactam, fosfomisin, meropenem, cefepime, ceftazidime, cefotaxime, ciprofloksasin dan netilmisin. Sebagai alternatif untuk terapi antipseudomonal, antimikroba yang dapat dipilih adalah cefepime, ceftazidime, meropenem dan fosfomisin. Untuk itu disarankan kepada para dokter di RSK St. Vincentius a Paulo Surabaya agar menggunakan antimikroba yang sesuai dengan hasil kultur dan uji kepekaan kuman terhadap antimikroba. Hasil data kepekaan yang diperoleh juga masih belum memuaskan karena disk antimikroba yang digunakan untuk uji kepekaan kurang seragam dan berlainan pada setiap jenis kuman. Agar dapat diperoleh hasil data yang lebih representatif di masa mendatang, maka antimikroba untuk uji kepekaan di laboratorium harus seragam. Penelitian seperti ini sebaiknya dilakukan secara berkala untuk mcngctahui apakah ada perubahan pada pola kuman dan kepekaannya tcrhadap antimikroba. Karena sejalan dengan waktu resistensi akan meningkat.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: Faculty of Pharmacy > Department of Pharmacy
Depositing User: Lasi 193031
Date Deposited: 08 May 2014 09:13
Last Modified: 08 May 2014 09:13
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/13620

Actions (login required)

View Item View Item