Perancangan 5S Dan Good Manufacturing Practise (GMP) Di PT. Indo Tata Abadi, Pandaan

SURYA, ELLYANA ANGGRAINI (2013) Perancangan 5S Dan Good Manufacturing Practise (GMP) Di PT. Indo Tata Abadi, Pandaan. [Undergraduate thesis]

[img]
Preview
PDF
TM_3639_Abstrak.pdf

Download (107Kb) | Preview
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/232658

Abstract

Area perdagangan bebas menuntut setiap perusahaan di Indonesia untuk selalu melakukan efisiensi, baik itu dalam hal waktu, biaya dan material. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem manajemen perusahaan yang baik dan terkonsep demi menciptakan standar atau budaya kerja yang berfokus pada efisiensi perusahaan. Dengan adanya efisiensi dan budaya kerja yang baik, maka dapat dipastikan produktivitas perusahaan akan meningkat dan kualitas produk dapat terjamin, sehingga perusahaan dapat semakin kompetitif dalam persaingan usaha. PT. Indo Tata Abadi adalah sebuah perusahaan yang bergerak di industri manufaktur khususnya pembuatan sol sepatu. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2006 dan terletak di Pandaan. Perusahaan ini memproduksi sol sepatu dengan bahan baku utama biji plastik memiliki pangsa pasar yang cukup luas, konsumennya tidak hanya di Indonesia tetapi juga internasional. Terdapat beberapa sistem manajemen yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan budaya kerja yang positif, seperti Sistem Manajemen Mutu ISO 9001, Pokayoke, Malcolm Baldrige, Budaya Kerja 5S (5R), Good Manufacturing Practices (GMP), dan lain-lain. Sistem manajemen yang akan diterapkan dalam perusahaan PT. Indo Tata Abadi adalah GMP dan budaya kerja 5S karena dinilai cukup sederhana untuk diterapkan untuk perusahaan dan dapat dipahami dengan mudah oleh karyawan. GMP adalah cara berproduksi yang baik yang berpedoman pada suatu kriteria atau standar baku, yaitu terkait dengan bangunan, manajemen perusahaan, utilitas, pemeliharaan, peralatan, penyimpanan, dan sanitasi. Budaya kerja 5S (5R) adalah budaya kerja yang diadopsi dari Jepang yang dirancang untuk menghilangkan pemborosan dan pembentukan budaya kerja yang positif secara berkesinambungan. Adapun tahapan yang harus dilakukan dalam pembentukan budaya kerja 5S yaitu ringkas (seiri), rapi (seiton), resik (seiso), rawat (seiketsu), dan rajin (shitsuke) Setelah dilakukan scanning gap analysis berdasarkan kriteria GMP, didapatkan hasil bahwa total 21 kriteria (37,35%) yang belum dapat dipenuhi oleh perusahaan, dimana kriteria terbesar yang belum terpenuhi terkait dengan Penanggung jawab kegiatan/area, sistem penarikan produk, label kemasan, bangunan dan fasilitas produksi. Selain itu juga dari pengamatan singkat berdasarkan standar 5S ditemukan banyak ketidakdisiplinan dalam bekerja, seperti peletakan barang, penyimpanan alat dan kebersihan area kerja. Total perbaikan yang dilakukan dalam perusahaan berdasarkan standar sistem manajemen GMP dan 5S sebanyak 20 perbaikan, dimana sebanyak 9 perbaikan dari standar sistem manajemen GMP dan 14 perbaikan dari standar budaya kerja 5S. Untuk sifat perbaikan yang dilakukan, 6 perbaikan dilakukan terkait perbaikan fisik dan 14 perbaikan terkait perbaikan dokumen. Dari hasil evaluasi perbaikan sistem manajemen dengan menyebarkan kuesioner kepada karyawan, didapatkan hasil bahwa mereka puas dan setuju terhadap perbaikan sistem manajemen (4,33).

Item Type: Undergraduate thesis
Uncontrolled Keywords: Good Manufacturing Practices, 5S.
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
Divisions: Faculty of Engineering > Department of Industrial Engineering
Depositing User: Moch. Ali Syamsudin 197011
Date Deposited: 17 Jun 2014 07:02
Last Modified: 17 Jun 2014 07:02
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/16913

Actions (login required)

View Item View Item