Penerapan Activity Based Costing Dalam Rangka Menetapkan Biaya Per Produk Pada Bank X Di Samarinda

Linawaty , Gunawan (1994) Penerapan Activity Based Costing Dalam Rangka Menetapkan Biaya Per Produk Pada Bank X Di Samarinda. [Undergraduate thesis]

[img]
Preview
PDF
AK_349_Abstrak.pdf

Download (133Kb) | Preview
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/154364

Abstract

Dalam era pembangunan dewasa ini, berbagai lapisan usaha mengalami kemajuan dengan pesatnya. Hal ini dapat dilihat dengan timbulnya berbagai badan usaha baru. Sementara itu badan usaha-badan usaha yang telah ada juga semakin berkembang sejalan dengan perkembangan dunia usaha. Baik badan usaha-badan usaha yang telah ada· maupun bad an usaha-badan usaha yang baru sebagian besar bermotifkan laba, oleh karena itu badan usaha-badan usaha tersebut berupaya untuk memaksimalkan laba badan usahanya. Dalam kondisi perekonomian dewasa ini, banyak badan usaha - badan usaha mendapat kesulitan dalam meraih laba yang maksim:al, karena perkerribangan dunia usaha yang semakin pesat mengakibatkan persaingan diantara badan usaha-badan usaha sejenis semakin ketat. Dalam menghadapi kenyataan semacam ini, badan usaha dituntut untuk dapat melakukan pengelolaan secara tepat sehingga tujuan badan usaha dapat tercapai secara efisien daan efektif. Untuk itulah maka · dalam mengelola badan usaha, pihak-pihak yang berkepentingan dalam badan usaha memerlukan informasi yang akurat agar badan usaha dapat · memepertahankan kelangsungan hidupnya. Pihak yang berkepentingan ' dengan badan usaha meliputi pihak internal dan ekternal. Pihak internal alam hal ini manajemen memerlukan informasi yang akurat untuk mengelola badan usaha, antara lain· dengan melakukan perencamian, pengendalian dan pengambilan putusan. Pihak manajemen dalam membuat suatu putusan, dalam hal ini putusan antara menerima atau menolak pesanan khusus juga memerlukan informasi biaya yang akurat mengenai biaya produk dan prilakunya, agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan pengambilan putusan. Pada umumnya badan usaha dalam menghitung biaya produk menggunakan metode konvensional, dimana pengalokasian biaya overhead keproduk berdasarkan volume produksi. Padahal pengalokasian biaya overhead keproduk berdasarkan volume ini sangat arbitrer dan terlalu disederhanakan karena ada beberapa macam biaya yang peningkatannya dipengaruhi oleh perubahan tingkat produksi dan ada pula biaya-biaya lain yang besarnya tidak dipengaruhi oleh tingkat volume produksi sama sekali. Hal ini mengakibatkan kesalahan dalam product costing, yang pada akhirnya akan mempengaruhi juga pengalokasian biaya dalam biaya tetap dan biaya variabel. Kesalahan dalam pengalokasian biaya tetap dan variabel ini dapat berdampak negatif bagi putusan yang akan diambil oleh pimpinan badan usaha, dalam hal ini pengambilan putusan antara menerima atau menolak pesanan khusus, dimana pemisahan biaya dalam biaya tetap dan biaya variabel sangat penting karena akan mempengaruhi harga pokok produk badan usaha. Jadi jika biaya dialokasikan kedalam biaya tetap dan biaya variabel hanya berdasarkan volume produksi saja akan mengakibatkan penetapan biaya prod'uk pada badan usaha "S" menjadi kurang akuFat, Akibatnya badan usaha menjadi kurang kompetitif dan dapat kehilangan pembeli yang potensial. Untuk dapat memantapkan posisinya maka sebaiknya bad an usaha "S" harus juga memperhatikan aktifitas-aktifitas non volume dalam mengalokasikan biayanya. · Untuk mengatasi masalah di atas, maka akan digunakan metode ABC yang diharapkan dapat membantu · pihak manajemen untuk mengataasi kesalahan dalam produk costing tersebut. Metode ABC ini, membebankan biaya produksi tidak langsung (overhead) keproduk berdasarkaan sumber daya yang dikonsumsinya. Caranya dengan mengidentifikasi aktifitas-aktifitas apa yang menyebabkan timbulnya biaya tersebut, kemudian membebankan biaya tersebut keproduk berdasarkan jumlah aktifitas yang dikonsumsi oleh produk. Jadi dengan adanya informasi yang akurat mengenai biaya produk, maka secara otomatis pengkla-sifikasian biaya dalam biaya tetap dan biaya variabelpun juga menjadi lebih tepat, sehingga putusan yang akan diambil pihak manajemen juga tepat. . Disamping dari basil p.erhitungan kuantitatif, pihak manajemen dalam mengambil putusan antara menerima atau menolak pesanan khusus perlu mempertimbangkan juga faktor-faktor lainnya (kualitatif), antara lain: 1. Dengan adanya pesanan khusus tersebut, apakah badan usaha dapat tetap memenuhi permintaan biasa selain permintaan khusus. 2. Karena harga yang diberikan untuk pesanan khusus ini biasanya di bawah harga normal, maka perlu dipertimbangkan jika harga ini diketahui oleh regular customer tentunya akan menimbulkan rasa tidak puas terhadap kebijakaan badan usaha lainnya. 3. Jika badan usaha menerima pesanan ini, maka pelanggan tersebut akan menjual produk yang diperoleh dengan harga yang lebih rendah dari harga normal dengan harga yang bersaing. Hal ini dapat mengakibat terganggunanya pasar yang telah ada. 4. Selain itu badan usaha juga harus mempertimbangkan bahwa dengan diterimanya pesanan khusus tersebut, maka badan usaha akan kehilangan kesempatan untuk nienerima pesanan dari pelanggan yang lain dengan harga yang lebih tinggi dari baraga pesanan khusus. Dan jika pesanan khusus tersebut ditolak, maka badan usaha juga harus mempertimbangkan dengan kapasitas yang masih belum digunakan.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: H Social Sciences > HF Commerce > HF5601 Accounting
Divisions: Faculty of Business and Economic > Department of Accounting
Depositing User: Suwardi 193009
Date Deposited: 17 Jun 2014 09:09
Last Modified: 17 Jun 2014 09:09
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/16985

Actions (login required)

View Item View Item