Peningkatan Kualitas pada Proses Produksi Permen untuk Mengurangi Persentase Cacat dengan Menggunakan Metode Six Sigma di PT. Ultra Abadi Surabaya

YUGO, YUNI PURNOMO (2012) Peningkatan Kualitas pada Proses Produksi Permen untuk Mengurangi Persentase Cacat dengan Menggunakan Metode Six Sigma di PT. Ultra Abadi Surabaya. [Undergraduate thesis]

[thumbnail of TM_3519_Abstrak.pdf]
Preview
PDF
TM_3519_Abstrak.pdf

Download (65kB) | Preview
Official URL / DOI: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/227698

Abstract

PT Ultra Prima Abadi merupakan salah satu industri manufaktur yang memproduksi permen yang bertempat di Surabaya. Sebagai salah satu industri permen, PT Ultra Prima Abadi harus bersaing dengan perusahaan-perusaahaan yang juga bergerak di bidang yang sama, yaitu memproduksi permen. Untuk dapat bersaing, PT Ultra Prima Abadi perlu melakukan peningkatan kualitas. Peningkatan kualitas tersebut dilakukan dengan menerapkan metode six sigma. Penerapan metode ini dilakukan pada proses produksi permen Station Rasa Mintz 2 Layer yang dipilih berdasarkan perjualan terbesar pada bulan April 2011 dan persentase cacat sebesar 4,07% yang masih berada di atas standar perusahaan. Proses produksi permen Station Rasa 2 Layer terdiri atas 6 proses, yaitu proses penimbangan, pencampuran, extruder, pencetakan, pedinginan, dan proses packing. Pada tahap define dilakukan identifikasi masalah, pemilihan objek, pembuatan mapping, dan penentuan CTQ (Critical to Quality)dari masing-masing proses produksi. Pada tahap measure dilakukan penentuan kriteria defect, pembuatan control chart, perhitungan DPO (Defect per Opportunity), DPMO (Defect per Million Opportunity), yield, nilai sigma serta perhitungan COPQ (Cost of Poor Quality). Nilai sigma untuk proses awal berturut-turut adalah 4,10 untuk proses penimbangan, 3,81 untuk proses pendinginan, 3,94 untuk proses packing 1 dan 3,93 untuk proses packing 2. Sedangkan besarnya COPQ (Cost of Poor Quality) dari masing-masing proses, yaitu proses penimbangan sebesar Rp 39.077/jam, proses pendinginan sebesar Rp 30.415/jam, proses packing 1 sebesar Rp 804/jam, dan untuk proses packing 2 sebesar Rp 424/jam. Pada tahap analyze, dilakukan pembuatan diagram pareto, diagram Ishikawa, dan analisis FMEA. Dari analisis diagram Ishikawa didapatkan kemungkinan timbangan yang tidak terkalibrasi dan mata pisau tumpul. Untuk membuktikan kemungkinan tersebut dilakukan gage and measurement system capability dan pembuatan p-chart. Dari analisis gage and measurement system capability diperoleh nilai P/T ratio sebesar 0,1263 dimana nilai tersebut lebih dari 0,1 yang menunjukan bahwa alat ukur kurang terkalibrasidan pada pembuatan p-chart terdapat trend yang menunjukkan kenaikan persentase produk cacat yang disebabkan oleh mata pisau tumpul. Pada tahap improve, dilakukan penentuan prioritas perbaikan berdasarkan RPN hasil analisis FMEA yang kemudian dibuat rencana tindakan perbaikan dan peningkatan. Tindakan perbaikan dan peningkatan tersebut antara lain penimbangan dilakukan 1 hari sebelum digunakan, penggunaan timbangan digital, melakukan proses kalibrasi internal setiap 2 minggu sekali, operator melaksanakan prosedur yang sudah ada, pemberian alat bantu berupa batang besi pada panel suhu, pemberian warna cerah pada panel timer, pembuatan instruksi kerja, inspeksi setiap 1 juta unit permen dan inspeksi setiap 20000 bag permen. Tindakan perbaikan dan peningkatan tersebut diimplementasikan dan dihitung ulang DPO, DPMO, yield, nilai sigma, dan COPQ sebagai tolok ukur kinerja akhir. Implementasi tersebut memiliki nilai sigma sebesar lebih dari 6 untuk proses penimbangan, 3,91 untuk proses pendinginan, 3,97 untuk proses packing 1 dan 4,02 untuk proses packing 2. Sedangkan besarnya COPQ untuk masing-masing proses setelah implementasi adalah Rp 0/jam untuk proses penimbangan, Rp 18.638/jam untuk proses pendinginan, Rp 693/jam untuk proses packing 1 dan Rp 318/jam untuk proses packing 2. Setelah dilakukan penerapan tindakan perbaikan pada tahap implementasi, persentase cacat yang semula 4,07% menjadi 2,84%. Pada tahap terakhir, yaitu tahap control dilakukan pengendalian kualitas produksi dengan menentukan kriteria, alat kontrol, periode kontrol dan penanggung jawab untuk tiap-tiap instruksi kerja. Dengan ditentukannya keempat hal tersebut, diharapkan kualitas dari proses produksi dapat dikontrol.

Item Type: Undergraduate thesis
Uncontrolled Keywords: PT. Ultra Prima Abadi, Six Sigma, COPQ, CTO
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
Divisions: Faculty of Engineering > Department of Industrial Engineering
Depositing User: Moch. Ali Syamsudin 197011
Date Deposited: 27 Jun 2014 10:28
Last Modified: 27 Jun 2014 10:28
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/18814

Actions (login required)

View Item View Item