Perbedaan Motivasi Melanjutkan Pendidikan Tinggi Antara Remaja Yang Bekerja Dengan Remaja Yang Tidak Bekerja Ditinjau Dari Persepsi Terhadap Tuntutan Orang Tua.

-, Ni Luh Putu Ayu Eka Adnyani (2000) Perbedaan Motivasi Melanjutkan Pendidikan Tinggi Antara Remaja Yang Bekerja Dengan Remaja Yang Tidak Bekerja Ditinjau Dari Persepsi Terhadap Tuntutan Orang Tua. [Undergraduate thesis]

[img]
Preview
PDF
ED_78_Abstrak.pdf

Download (85Kb) | Preview
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/152069

Abstract

Pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, sangat diperlukan dalam menyambut datangnya era globalisasi. Peluang~peluang yang akan terbuka karena perkembangan industri dan teknologi, membutuhkan sejumlah besar wirausahawan yang andal dan sebaiknya mempunyai latar belajar pendidikan tinggi (Tilaar, 1997: 172). Pendidikan tinggi besar manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup manusia [ndonesia. sehingga untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya motivasi melanjutkan pendidikan tinggi dari masing-masing individu khususnya remaja. Penelitian ini ingin mengetahui apakah ada perbedaan motivasi melanjutkan pendidikan tinggi antara remaja yang bekerja dengan remaja yang tidak bekerja dan apakah ada hubungan antara persepsi terhadap tuntutan orang tua dengan motivasi melanjutkan pendidikan tinggi pada remaja. Subjek penelitian ini adalah remaja yang berusia 16-18 tahun (remaja akhir), masih bersekolah di Sekolah Menengah Umum sederajat, yang tidak bekerja (32 orang) maupun yang bekerja sebagai pengrajin gerabah (30 orang) dan bertempat tinggal di sekitar Sentra lndustri Kerajinan Gerabah Banyumulek. Data tentang motivasi melanjutkan pendidikan tinggi dan persepsi terhadap tuntutan orang tua diungkap melalui angket tipe pilihan, sedangkan data tentang status pekerjaan diungkap melalui data diri subjek. Pengujian hipotcsis dilakukan dengan metode analisis kovarians 1-jalur dan analisis momen tangkar dari Pearson. Dari hasil analisis dapat disimpulkan: 1. Tidak ada perbedaan motivasi melanjutkan pendidikan tinggi antara remaja yang bekerja dengan remaja yang tidak bekerja, dengan nilai F=0,274 dan p=0,609>0,05. 2. Tidak ada perbedaan motivasi melanjutkan pendidikan tinggi antara remaja yang bekerja dengan remaja yang tidak bekerja dengan mengontrol variabel persepsi terhadap tuntutan orang tua, dengan nilai F=2,036 dan p=O, 155>0,05. 3. Ada hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap tuntutan otang tua dengan motivasi melanjutkan pendidikan tinggi pada remaja. dengan nilai r =0,557; rl=O,Jt 0; p=O,OOO<O,O Motivasi melanjutkan pendidikan tinggi pada remaja tidak dipengaruhi oleh status pekcrjaan. Faktor yang dapat mendorong timbulnya motivasi melanjutkan pendidikan tinggi pada remaja yaitu persepsi terhadap tuntutan orang tua. Persepsi terhadap tuntutan orang tua pada remaja yang bekerja maupun yang tidak bekerja tcrgolong sangat baik (positif). sehingga dapat dilihat pengaruhnya terhadap motivasi melanjutkan pendidikan tinggi, tcrgolong tinggi. Pengaruh tuntutan orang tua terhadap anak (remaja) tergantung pada bagaimana anak (remaja) tersebut mempersepsikan tuntutan orang tuanya, khususnya dalam hal melanjutkan pendidikan tinggi. Jika remaja merasa orang tuanya mengharapkan dan mendukungnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa ada unsur memaksa dan jika remaja diberi kesempatan untuk membuat keputusan sendiri, merasa orang tua dapat memahami keinginan mereka, merasa dihargai; maka remaja menjadi lebih termotivasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
Divisions: Faculty of Psychology > Department of Psychology
Depositing User: Masyhur 196042
Date Deposited: 05 Feb 2015 04:22
Last Modified: 05 Feb 2015 04:22
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/22314

Actions (login required)

View Item View Item