Penerapan Good Manufacturing Practice dan 5R di CV. XYZ, Gresik

Putra, Rico Anggarda (2015) Penerapan Good Manufacturing Practice dan 5R di CV. XYZ, Gresik. [Undergraduate thesis]

[img]
Preview
PDF
TM_3811_Abstrak.pdf

Download (45Kb) | Preview
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/239214

Abstract

Globalisasi dan perdagangan bebas yang didukung dengan kemajuan teknologi komunikasi telah memperluas ruang gerak arus transaksi barang maupun jasa. Hal ini membuat pengusaha perlu bekerja keras melakukan inovasi dan pengembangan produk agar dapat bersaing dengan kompetitor. Kondisi tersebut mendorong pengusaha untuk melakukan perbaikan agar tidak kalah dengan kompetitor, perbaikan manajemen mutu yang baik adalah salah satu perbaikan yang dapat dilakukan guna dapat bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, serta untuk menghasilkan produk yang berkualitas secara konsisten. PT. XYZ adalah salah satu perusahaan yang berjalan di industri manufaktur khususnya di bidang pembuatan karton box, berdiri pada tahun 2005 yang bertempat di Surabaya. Pada tahun 2007 PT. XYZ memindahkan tempat produksi ke area yang lebih luas yaitu 1500 m2 yang berlokasi di jalan raya Kedamean, Gresik. Terdapat beberapa sistem manajemen mutu yang dapat diaplikasikan pada industri sesuai dengan kondisi perusahaan, baik dari aspek infrastruktur maupun sumber daya manusia yang ada pada perusahaan tersebut. Manajemen mutu yang ada antara lain ISO 9001:2008, tata cara berproduksi yang baik GMP (Good Manufacturing Practice), serta budaya kerja 5R. GMP (Good Manufacturing Practice) adalah cara berproduksi yang baik yang berpedoman pada suatu kriteria atau standar baku, yaitu terkait dengan bangunan, manajemen perusahaan, utilitas, pemeliharaan, peralatan, penyimpanan, dan sanitasi. Selain itu GMP juga dikenal dengan Cara Produksi yang Baik (CPB) pada dasarnya adalah peraturan tentang cara untuk mencapai kualitas yang konsisten dalam produk yang dibuat. Ada banyak definisi dari kualitas yang merupakan istilah yang agak subjektif tapi secara umum memenuhi harapan konsumen. Sedangkan, budaya kerja 5R adalah budaya kerja yang diadopsi dari Jepang yang dirancang untuk menghilangkan pemborosan waktu dalam proses produksi dan pembentukan budaya kerja yang positif secara berkesinambungan. Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam pembentukan budaya kerja 5R yaitu ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin. Sistem manajemen mutu GMP yang akan diterapkan akan didukung oleh budaya kerja 5R dengan memanfaatkan sumber daya yang ada khususnya tempat kerja yang di dalamnya mencakup peralatan, dokumen, bangunan dan ruang. Setelah dilakukan scanning gap berdasarkan kriterian GMP, didapatkan hasil 81 sub- kriteria yang ada, dengan 43 poin yang sesuai standar (53,09 %), dan 38 poin yang belum atau tidak memenuhi standar GMP (46,91 %), sedangkan berdasarkan hasil scanning gap berdasarkan standar budaya kerja 5R didapatkan jumlah kriteria yang ada sebanyak 22, yang sudah memenuhi standar sebanyak 6 poin (27,27 %), sedangkan yang belum memenuhi kriteria persyaratan 5R terdapat 16 poin (72,73 %).

Item Type: Undergraduate thesis
Uncontrolled Keywords: good manufacturing practice, 5R
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
Divisions: Faculty of Engineering > Department of Industrial Engineering
Depositing User: Eko Wahyudi 197013
Date Deposited: 14 Sep 2015 07:35
Last Modified: 14 Sep 2015 07:35
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/25458

Actions (login required)

View Item View Item