Kedudukan Janda Dalam Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali di Kabupaten Tabanan

Lisda, Mufliana (1994) Kedudukan Janda Dalam Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali di Kabupaten Tabanan. [Undergraduate thesis]

[img]
Preview
PDF
PE_1480_Abstrak.pdf

Download (154Kb) | Preview
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/141689

Abstract

Hukum adat di Bali, khususnya di Kabupaten Tabanan, bahwa kekeluargaan pada kelompok masyarakat patrilineal, yaitu garis keturunan dari pihak laki-laki. Sistem ini dipengaruhi unsur-unsur agama Hindu yang berhubungan erat dengan hukum adat Bali sekaligus merupakan sumber utama hukum adat waris di daerah Bali. Sistem pewarisan hukum adat di daerah Bali umumnya berhubungan erat dengan bentuk perkawinan, misalnya perkawinan mepadik (pinang), perkawinan ngerorod atau merangkat <selarian), perkawinan melegandang (perkawinan paksa), perkawinan ambil anak atau kawin sentana dan kawin nyeburin. Dalam eistem patrililneal sebagai ahli waris adalah anak kandung laki-laki dari keturunan laki-laki, anak perempuan sentana rajeg (anak perempuan yang berstatus sebagai anak laki-laki) dan anak angkat laki-laki. Sedangkan seorang janda dianggap di luar dadya (garis keturunan laki-laki). Jadi seorang janda dianggap di luar garis keturunan keluarga suaminya. Pada dasarnya di Bali, antara suami isteri tidak ada hubungan saling mewaris, artinya janda atau duda bukan saling mewaris harta peninggalan dari janda atau duda yang meninggal dunia terlebih dahulu. Walaupun seorang janda bukan merupakan ahli waris, namun bukanlah berarti bahwa janda mudah untuk ditelantarkan, tetapi janda tersebut mempunyai hak untuk menikmati hasil dari harta peninggalan suami demi untuk kelangsungan hidupnya. ...

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Masyhur 196042
Date Deposited: 13 Oct 2015 07:07
Last Modified: 13 Oct 2015 07:07
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/25665

Actions (login required)

View Item View Item