Perancangan Algoritma Penjadwalan Flowshop Semi Dinamis Dengan Memperhitungkan Waktu Setup Yang Tergantung Urutan Untuk Meminimumkan Jumlah Weighted Flowtime dan Weighted Tardiness

Chandra, Aileen Junita (2009) Perancangan Algoritma Penjadwalan Flowshop Semi Dinamis Dengan Memperhitungkan Waktu Setup Yang Tergantung Urutan Untuk Meminimumkan Jumlah Weighted Flowtime dan Weighted Tardiness. [Undergraduate thesis]

[img]
Preview
PDF
TM_3158_Abstrak.pdf

Download (50Kb) | Preview
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/155530

Abstract

Persaingan di dunia industri manufaktur semakin ketat dan suatu perusahaan untuk dapat bertahan harus dapat memenuhi kebutuhan konsumen, maka diperlukan suatu penjadwalan produksi yang tepat. Penjadwalan flowshop m mesin dengan memperhitungkan waktu set up yaitu penjadwalan flowshop pada beberapa mesin, dengan memperhatikan waktu persiapan yang terjadi saat pergantian operasi. Waktu set up yang dimaksud di sini adalah waktu set up yang tergantung pada urutan job. Tujuan meminimumkan jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs adalah tujuan penting pada banyak situasi kehidupan nyata, khususnya dengan memperhatikan tujuan untuk meminimumkan biaya selama flowtime, perjanjian biaya penalti keterlambatan pasokan dan penghargaan pelanggan. Oleh karena itu, tujuan ini menjadi tujuan yang lebih penting daripada meminimumkan makespan. Penjadwalan flowshop m mesin dengan memperhatikan waktu set up tergantung urutan yang ada saat ini adalah penjadwalan pada flowshop yang statis. Dalam kenyataan sangat sering ditemui suatu kondisi yang semi dinamis. Sehingga dibutuhkan suatu algoritma penjadwalan produksi flowshop m mesin dengan memperhatikan waktu set up yang tergantung urutan pada flowshop semi dinamis. Algoritma awal yang dianalisis dan menjadi acuan adalah algoritma yang dikembangkan oleh Rajedran dan Ziegler (2003) atau algoritma RZ, yang menghasilkan dua urutan, yaitu: urutan pertama yang mempertimbangkan completion times dari job yang ditambahkan dan existing partial schedule, selain itu juga mempertimbangkan biaya selama flowtime dan biaya tardiness dari job yang ditambahkan dan urutan kedua, dihasilkan dengan mempertimbangkan due dates, biaya selama flowtime dan biaya tardiness dari job. Yang terbaik dari kedua urutan tersebut akan dipilih untuk diterapkan Improvement Scheme sebanyak dua kali. Dilakukan pula uji coba algoritma CDS, yaitu algoritma yang meminimumkan makespan pada penjadwalan flowshop, untuk membuktikan bahwa meminimumkan makespan tidak sekaligus meminimumkan jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs. Dari studi kasus yang dibuat, dapat disimpulkan bahwa algoritma RZ terbukti dapat menghasilkan urutan yang lebih meminimumkan jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs pada sebuah flowshop dengan waktu set up yang sequence-dependent dibanding algoritma CDS. Untuk studi kasus 7 job penghematan oleh algoritma RZ minimum 0.47% dan maksimum 15.60%. Pada studi kasus 10 job penghematan oleh algoritma RZ minimum 8% dan maksimum 14.92%. Untuk studi kasus 15 job, penghematan oleh algoritma RZ minimum 23.86% dan maksimum 34.31%. Algoritma usulan yang dibuat pada dasarnya menggunakan prinsip algoritma RZ. Hanya saja, ketika ada job tambahan yang datang, maka akan dilakukan penjadwalan ulang pada job-job yang belum diproses dan pada job tambahan tersebut. Selain itu, pada algoritma usulan ini, improvement scheme akan dilakukan terus sampai tidak menghasilkan perubahan hasil. Keterbatasan algoritma usulan ini adalah merupakan algoritma heuristik, karena itu tidak dapat menghasilkan penjadwalan yang optimum. Analisis sensitivitas terhadap jumlah job awal, semakin banyak jumlah job awal, maka semakin kecil persentase selisih makespan dan persentase selisih jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs. Persentase selisih makespan terkecil (9.15%) dan persentase selisih jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs terkecil (33.28%) dihasilkan pada jumlah job awal terbanyak (15 job). Analisis sensitivitas terhadap jumlah job tambahan, semakin banyak jumlah job tambahan, maka semakin besar persentase selisih makespan dan persentase selisih jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs. Persentase selisih makespan terbesar (51.57%) dan persentase selisih jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs terbesar (167.23%) dihasilkan pada jumlah job tambahan terbanyak (5 job tambahan). Jumlah mesin mempengaruhi persentase selisih makespan dan persentase selisih jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari job, perubahan jumlah mesin terhadap persentase selisih makespan dan persentase selisih jumlah weighted flowtime dan weighted tardiness dari jobs tidak membentuk suatu pola linier.

Item Type: Undergraduate thesis
Uncontrolled Keywords: Flowshop, Semi Dinamis
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
Divisions: Faculty of Engineering > Department of Industrial Engineering
Depositing User: Masyhur 196042
Date Deposited: 04 Nov 2015 09:49
Last Modified: 04 Nov 2015 09:49
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/25949

Actions (login required)

View Item View Item