Peran Keluarga Dan Lingkungan Sosial Dalam Pembentukan Konsep Diri Transgender Male To Female

June, Cassandra (2013) Peran Keluarga Dan Lingkungan Sosial Dalam Pembentukan Konsep Diri Transgender Male To Female. [Undergraduate thesis]

Full text not available from this repository. (Request a copy)
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/232904

Abstract

Transgender adalah fenomena ketika seseorang secara fisik memiliki jenis kelamin tertentu tetapi secara psikologis berlawanan dan memiliki keinginan yang kuat untuk mengubah seperti fisik jenis kelamin yang berlawanan dengan yang dimilikinya. Perilaku tersebut memunculkan berbagai respon dari masyarakat umum terutama respon negatif seperti perlakuan-perlakuan kasar baik yang datang dari keluarga maupun masyarakat dan memberikan dampak yang berbeda-beda bagi masing-masing transgender. Peneliti ingin meneliti kasus ini karena adanya keingintahuan peneliti mengenai kehidupan transgender yang mendapatkan perlakuan negatif dari orang disekitarnya termasuk keluarganya. Penelitian ini berfokus pada proses terbentuknya konsep diri transgender yng mengalami perlakuan negatif baik dari keluarganya maupun orang-orang di sekitarnya dengan menggunakan pendekatan secara kualitatif studi kasus intrinsik. Melalui paradigma post-positivism ini peneliti berusaha untuk mengulas dan menjelaskan bagaimana proses terbentuknya konsep diri transgender yang dapat dilihat dari sisi subjektivitas peneliti serta menggunakan metode pengumpulan data interview dan pengamatan langsung di lapangan (observasi). Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa subjek yang bernama Fabrio alias Shinta dan Aldi alias Jenny memiliki konsep diri yang jauh berbeda dimana Shinta masih terlihat takut tidak diterima oleh orang-orang disekitarnya terutama keluarganya. Oleh karena itu, Shinta setelah memutuskan untuk menjadi transgender ia masih terlihat berperilaku sebagai laki-laki pada situasi tertentu seperti saat pulang ke rumah, reuni sekolah, dan ke Gereja. Sedangkan Jenny, Jenny memiliki konsep diri yang cenderung positif daripada Shinta karena Jenny setelah memutuskan menjadi transgender dan diterima oleh keluarganya, ia tak pernah sekali pun berperilaku laki-laki karena Jenny sudah merasa nyaman dan menjadi dirinya sendiri. Selain itu baik Shinta maupun Jenny memiliki perasaan berdosa kepada Tuhan karena mereka merasa bersalah karena tidak hidup sesuai dengan kodrat mereka sebagai seorang laki-laki. Hal ini disebabkan baik Shinta maupun Jenny dari kecil ditanamkan nilai-nilai religious oleh keluarganya. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti kepada penelitian selanjutnya adalah sebaiknya menggunakan subjek yang lebih beragam profesi pekerjaannya. Saran untuk para subjek adalah statusnya sebagai seorang transgender janganlah membuat subjek merasa tidak berharga kerena masih banyak orang yang menghargai keberadaan transgender. Saran kepada masyarakat di sekitar transgender dan orang tua yang memiliki anak sebaiknya mereka menerima mereka dan tidak memaksa mereka untuk berubah karena akan berdampak pada konsep diri yang dimiliki transgender tersebut.

Item Type: Undergraduate thesis
Uncontrolled Keywords: Transgender, Konsep Diri, Relasi, Proses Terbentuknya Konsep Diri
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
Divisions: Faculty of Psychology > Department of Psychology
Depositing User: Masyhur 196042
Date Deposited: 19 Jul 2013 03:02
Last Modified: 19 Jul 2013 03:02
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/3754

Actions (login required)

View Item View Item