Pola Penggunaan Antimikroba Pada Penderita Sepsis Rawat Inap Di RSK ST. Vincentius A Paulo Surabaya Pada Tahun 1998 - 2001

Yohannes, Evy (2002) Pola Penggunaan Antimikroba Pada Penderita Sepsis Rawat Inap Di RSK ST. Vincentius A Paulo Surabaya Pada Tahun 1998 - 2001. [Undergraduate thesis]

Full text not available from this repository. (Request a copy)
Official URL / DOI: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/150654

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai Pola Penggunaan Antimikroba Pada Penderita Sepsis di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya. Pengamatan dilakukan terhadap rekam medik dan data pemeriksaan laboratorium penderita selama tahun 1998 sampai 2001. Jumlah penderita yang memenuhi kriteria sepsis adalah sebanyak 112 penderita. Variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah umur penderita sepsis, jenis kelamin penderita sepsis, ratarata lama perawatan penderita, angka kematian penderita sepsis, jenis kuman penyebab sepsis, kesesuaian ┬Ěpemberian antimikroba oleh dokter kepada penderita sepsis dengan hasil uji kepekaan kuman, jenis pengobatan tunggal/majemuk, golongan antimikroba tunggal dan majemuk dan jenis antimikroba tunggal dan majemuk yang digunakan untuk terapi penderita sepsis. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : kelompok usia yang paling banyak menderita sepsis adalah kelompok geriatri dengan umur 70-<80 tahun (17,85 %) dan penderita sepsis laki-laki (63,4 %) lebih banyak dibandingkan perempuan (36,6 %). Rata-rata lama perawatan penderita sepsis adalah 27,77 hari. Angka kematian penderita sepsis seluruhnya sebanyak 25 %. Jenis kuman patogen penyebab sepsis terbanyak adalah bakteri gram-negatif (55,36 %). Jenis terapi antimikroba terbanyak adalah terapi antimikroba tunggal (73,47 %). Golongan antimikroba tunggal terbanyak yang digunakan untuk terapi penderita sepsis adalah antibiotika turunan sefalosporin, diikuti oleh antibiotika turunan penisilin, dan antibiotika turunan quinolon. Golongan antimikroba majemuk terbanyak yang digunakan untuk terapi penderita sepsis adalah kombinasi dari antibiotika turunan sefalosporin dan aminoglikosida, diikuti oleh kombinasi sefalosporin dan metronidazol, serta kombinasi sefalosporin dan antijamur. Pemberian antimikroba baik tunggal maupun majemuk kepada penderita sepsis sebelum dan setelah hasil pemeriksaan kultur darah selesai teryata banyak yang tidak sesuai dengan hasil uji kepekaan kuman karena belum dilakukan uji kepekaan kuman terhadap antimikroba yang diberikan tersebut. Jenis antimikroba tunggal terbanyak yang diberikan kepada penderita sepsis adalah sefotaksim, diikuti oleh seftazidim, dan seftriakson. Jenis antimikroba majemuk terbanyak yang diberikan kepada penderita sepsis adalah kombinasi sulfametoksazol dan trimetoprim (kotrimoksazol) serta kombinasi sefotaksim dan gentamisin.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: Faculty of Pharmacy > Department of Pharmacy
Depositing User: Eko Wahyudi 197013
Date Deposited: 18 Jan 2014 02:22
Last Modified: 18 Jan 2014 02:22
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/4027

Actions (login required)

View Item View Item