Penerapan Subtantive Test Terhadap Sediaan Bahan Baku Dalam Rangka Menilai Kewajaran Penyajian Dalam Laporan Keuangan PT. "X" di Gresik

Budiarti, Julia (2001) Penerapan Subtantive Test Terhadap Sediaan Bahan Baku Dalam Rangka Menilai Kewajaran Penyajian Dalam Laporan Keuangan PT. "X" di Gresik. [Undergraduate thesis]

Full text not available from this repository. (Request a copy)
Official URL / DOI: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/153355

Abstract

Sediaan sebagai komponen dari aktiva lancar, merupakan salah satu unsur yang dinamis dan nilainya cukup material. Sediaan sifatnya sensitif terhadap kerusakan, pencurian, perubahan harga, dan seringkali terjadi kesalahan-kesalahan yang nilainya cukup material. Oleh karena itu perlu dilakukan audit terhadap sediaan untuk mengetahui kewajaran nilai sediaan yang disajikan dalam laporan keuangan. Badan usaha yang menjadi obyek penelitian adalah PT "X", yang merupakan badan usaha yang bergerak di bidang industri perkayuan (wood working), yang mengolah bahan baku menjadi barang siap ekspor. PT "X'' hanya melakukan produksi berdasarkan pesanan (job order). Dalam kegiatan usahanya, PT "X" mempunyai tiga golongan sediaan, yaitu sediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Sediaan bahan baku yang dimiliki PT "X", yaitu berupa kayu, memiliki sifat yang mudah rusak dan peka terhadap perubahan cuaca. Karena sifat tersebut, PT "X" seringkali mengalami masalah yang terkait dengan nilai sediaannya, yaitu adanya selisih perhitungan antara jumlah sediaan menurut catatan akuntansi dengan jumlah fisik yang ada di gudang. Selisih yang terjadi dapat berpengaruh terhadap kewajaran penyajian nilai sediaan dalam laporan keuangan. Untuk memperoleh keyakinan akan kewajaran penyajian sediaan bahan baku dalam laporan keuangan, maka dilakukan audit terhadap sediaan bahan baku, dengan menerapkan substantive test untuk menguji adanya salah saji yang sifatnya moneter yang secara langsung dapat berpengaruh terhadap kebenaran saldo laporan keuangan. Sebelum substantive test dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pemahaman dan penilaian atas sistem pengendalian internal badan usaha, yaitu melalui tanya jawab, kuesioner, dan observasi atas kegiatan badan usaha dari pemahaman tersebut, diketahui bahwa sistem pengendalian internal terhadap sediaan bahan baku pada PT "X" masih terdapat beberapa kelemahan. Pada PT "X" terdapat perangkapan fungsi antara fungsi penerimaan dan penyimpanan yang dirangkap oleh bagian gudang. Selain itu, sediaan yang dimiliki badan usaha tidak diasuransikan terhadap resiko terjadinya bencana yang mengancam keberadaan sediaan. PT "X" melakukan perhitungan fisik sediaan tiap enam bulan sekali dan karyawan yang ditugasi adalah karyawan yang bertanggung jawab atas pencatatan sediaan yaitu bagian akuntansi. Perhitungan fisik tidak dilakukan berdasarkan instruksi tertulis dari pimpinan badan usaha, tetapi hanya dilakukan secara lisan saja, sehingga memungkinkan pelaksanaan perhitungan fisik tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh serta dapat menimbulkan keraguan atas ketelitian dan keandalan prosedur perhitungan fisik terhadap sediaan. Setelah itu dilakukan prosedur substantive test yang merupakan langkah-langkah yang harus diambil dalam pelaksanaan substantive test. Prosedur substantive test dirancang berkaitan dengan tujuan audit atas sediaan, yaitu terkait dengan keandalan catatan akuntansi, eksistensi, pemilikan, pisah batas (cutoff), penilaian, dan penyajian dalam laporan keuangan. Dari pemeriksaan yang dilakukan, ternyata sediaan bahan baku pada neraca disajikan terlalu besar (overstated). Hal ini diketahui setelah dilakukan perhitungan fisik sediaan, dimana terdapat bahan baku yang rusak sehingga terdapat selisih antara jumlah sediaan bahan baku dalam catatan akuntansi dengan jumlah fisik di gudang. Bagian akuntansi tidak melakukan penyesuaian atas catatan akuntansinya dengan data yang sebenarnya dari hasil perhitungan fisik. Selain berakibat pada penyajian nilai sediaan bahan baku pada neraca menjadi lebih tinggi, laba yang diakui oleh badan usaha juga menjadi lebih tinggi karena badan usaha tidak membebankan kerusakan bahan baku ke beban pokok penjualan atau laba ditahan. Jika dibandingkan dengan nilai sediaan bahan baku di neraca, selisih tersebut tidak material, sehingga dapat dikatakan bahwa sedian bahan baku yang terdapat pada laporan keuangan PT "X" telah disajikan dengan wajar. Meskipun demikian, badan usaha seharusnya melakukan penyesuaian atas catatan akuntansinya untuk mendapatkan saldo sediaan bahan baku yang benar dan perhitungan laba rugi yang tepat. Selain itu badan usaha hendaknya meningkatkan pengendalian internal terhadap sediaan bahan baku yaitu dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: H Social Sciences > HF Commerce > HF5601 Accounting
Divisions: Faculty of Business and Economic > Department of Accounting
Depositing User: Hari Subagijo 201031
Date Deposited: 28 Aug 2013 03:53
Last Modified: 28 Aug 2013 03:53
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/4382

Actions (login required)

View Item View Item