Putra, Sulistyo Emantoko Dwi (2026) Membaca Risiko Sebelum Sakit Metilasi: DNA sebagai Biomarker Prediktif Penyakit Metabolik. Project Report. Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Surabaya.
|
PDF
Buku Prof Emantoko Fulltext_merged13082026.pdf - Published Version Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Peningkatan dramatis prevalensi penyakit metabolik seperti diabetes mellitus di dunia sebesar 445% dalam waktu 40 tahun tidak dapat dijelaskan oleh perubahan genetik populasi yang berlangsung lambat. Studi pada kembar identik menunjukkan bahwa meskipun memiliki DNA 100% sama, mereka sering menunjukkan perbedaan fenotipe yang signifikan. Paradoks epidemiologis ini menunjukkan keterbatasan fundamental paradigma genetik konvensional dan menuntut paradigma baru yang lebih integratif. Epigenetika menawarkan penjelasan alternatif melalui mekanisme yang dinamis, reversibel, dan responsif terhadap lingkungan. Buku orasi ilmiah ini memaparkan bukti empiris bahwa metilasi DNA, khususnya di plasenta, berperan kunci dalam pemrograman risiko metabolik sejak fase intrauterin dan dapat dimanfaatkan sebagai biomarker prediktif untuk deteksi dini pada fase presimptomatik. Studi kami menunjukkan metilasi DNA pada sampel plasenta dan bisulfite sequencing mengungkap pola hipermetilasi spesifik yang berkorelasi dengan luaran metabolik. Perubahan metilasi terkonsentrasi pada gen gen kunci seperti NR3C1 (regulasi kortisol dan tekanan darah), PDK4 (metabolisme glukosa), PPARγ (adipogenesis dan sensitivitas insulin), SLC2A4 (transporter glukosa), dan FTO (homeostasis energi). Plasenta dari bayi Large for Gestational Age (LGA) menunjukkan peningkatan metilasi DNA global sebesar 6-7% dibandingkan kontrol. Studi pada model hewan menunjukkan bahwa perubahan metilasi ini mendahului manifestasi klinis hiperglikemia hingga 3 minggu. Hal ini memberikan window of opportunity untuk intervensi preventif. Konsep Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD) menjelaskan bahwa kondisi lingkungan intrauterin, baikmetabolik melalui jalur epigenetika. Cell-free DNA (cfDNA) dalam sirkulasi maternal menunjukkan potensi sebagai biomarker non-invasif untuk skrining prenatal. Berbeda dengan biomarker konvensional yang hanya mendeteksi disfungsi yang telah termanifestasi, metilasi DNA dapat mengidentifikasi profil risiko pada fase preklinik. Paradigma biomarker prediktif ini membuka peluang transformasi dari pendekatan reaktif (reactive treatment) menjadi pendekatan proaktif (proactive prevention). Metilasi DNA menyediakan jendela molekuler untuk memahami pemrograman metabolik dan mendeteksi risiko penyakit sebelum manifestasi klinis. Dengan memanfaatkan cfDNA sebagai biomarker prediktif, kita dapat menggeser paradigma dari diagnosis penyakit yang sudah berkembang menjadi deteksi risiko pada individu yang masih sehat. Indonesia, dengan posisi uniknya menghadapi double burden malnutrisi dan keragaman genetik populasi yang tinggi, memiliki peluang strategis untuk memimpin pengembangan precision prevention berbasis epigenetika. Transformasi ini menuntut kolaborasi multidisiplin, investasi infrastruktur penelitian, dan komitmen kebijakan untuk mengintegrasikan biomarker epigenetika ke dalam sistem kesehatan nasional.
| Item Type: | Monograph (Project Report) |
|---|---|
| Subjects: | Q Science > Q Science (General) Q Science > QP Physiology |
| Divisions: | Postgraduate Programs > Master Program in Biotechnology |
| Depositing User: | Sulistyo Emantoko 61116 |
| Date Deposited: | 05 Oct 2026 01:53 |
| Last Modified: | 05 Oct 2026 01:53 |
| URI: | http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/51323 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
