Perbedaan kompetensi sosial anak ditinjau dari pemberian permainan tradisional

Fransisca, Maria Lolyta (2003) Perbedaan kompetensi sosial anak ditinjau dari pemberian permainan tradisional. [Undergraduate thesis]

Full text not available from this repository. (Request a copy)
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/152065

Abstract

Dinas Pendidikan Nasional Jawa Timur mulai menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) melalui taksonomi tujuan pendidikan yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Namun sekolah lebih menitikberatkan pada aspek kognitif dan psikomotor. Kurangnya kesempatan pengembangan ranah afektif menyebabkan peluang keberhasilan menerima, mengekspresikan, dan mengontrol aspek emosi dan sosial akan lebih kecil sehingga anak akan mengalami hambatan kompetensi sosial. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian permainan tradisional sebagai pendidikan pelengkap pendidikan formal. Permainan tradisional merupakan permainan interaksi yang menggunakan teori perilaku afektif dan psikomotor. Permainan tradisional dilakukan dengan metode bermain. Dengan bermain, anak mendapatkan macam-macam pengalaman yang menyenangkan, sambil menggiatkan usaha belajar dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan (Gunarsa, 1988). Melalui penelitian ini ingin diketahui dampak siswa yang mendapat permainan tradisional dan siswa yang tidak mendapat permainan tradisional dalam hal kecakapannya berhubungan dengan orang lain. Subyek penelitian ini berjumlah 40 orang yang berusia 8-11 tahun. Kelompok dengan permainan tradisional terdiri dari 21 siswa dan kelompok tanpa permainan tradisional terdiri dari 19 siswa. Untuk mencapai tujuan penelitian guna mengetahui apakah ada perbedaan kompetensi sosial anak ditinjau dari pemberian permainan tradisional pada anak-anak usia sekolah, digunakan metode angket, wawancara, observasi dan dianalisis dengan teknik statistik t-test. Hasil perhitungan menunjukkan ada perbedaan kompetensi sosial yang sangat signifikan antara subyek yang mendapatkan permainan dan yang tidak mendapatkan permainan (p < 0,01; rerata kelompok yang mendapat permainan tradisional: 28,2857 dan rerata kelompok yang tidak mendapatkan permainan tradisional: 19,00000). Subyek yang mendapat permainan tradisional lebih peduli terhadap kondisi temannya yang sedang mengalami kesulitan dibanding subyek yang tidak mendapat permainan tradisional. Perlakuan-perlakuan yang diberikan dalam permainan tradisional yang membedakan kedua kelompok subyek. Siswa yang mendapat permainan tradisional perlu mempertahankan kepekaan atau kepeduliannya pada sesama dengan cara terus belajar untuk mengontrol emosi, jujur dan terbuka, serta mampu mengungkapkannya kepada orang lain. Siswa yang tidak mendapat permainan tradisional perlu berlatih untuk mengenal perasaan diri sendiri dan mengungkapkannya dalam komunikasi non verbal, serta memahami dan mengontrol emosi. Kemampuan mengenal perasaan diri sendiri dan mengungkapkannya dalam komunikasi verbal, memahami komunikasi verbal, serta adaptasi dengan lingkungan pada kedua kelompok perlu dipelihara agar terbentuk secara alami dalam diri anak.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
Divisions: Faculty of Psychology > Department of Psychology
Depositing User: Eko Wahyudi 197013
Date Deposited: 13 Dec 2013 10:23
Last Modified: 13 Dec 2013 10:23
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/6009

Actions (login required)

View Item View Item