Pengendalian Kualitas di PT. Kesmatex

Indriastuti, Margaretha (2000) Pengendalian Kualitas di PT. Kesmatex. [Undergraduate thesis]

Full text not available from this repository. (Request a copy)
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/136543

Abstract

PT Kesmatex adalah perusahaan yang bergerak eli bidang usaha textile. Selama ini perusahaan belum menerapkan pengendalian kualitas dengan baik. Tidak adanya tindakan proaktif pada proses produksi untuk menjaga kualitas , produk yang dihasilkan sering menjadi penyebab timbulnya cacat pada produk yang cukup banyak dan ketidakefisienan dalam bekerja. Karena itu diperlukan adanya usaha penelusuran terhadap jenis cacat dan faktor penyebabnya yang kemudian akan menjadi dasar untuk rencana perbaikan pada proses produksi. Diagram pareto sebelum proses perbaikan, diketahui bahwa flek adalah jenis cacat terbanyak yaitu 26,84 % dari total cacat yaitu 1483, lalu disusul oleh tidak kena obat 46,73 %, crease mark 59,27 %, lubang kecil69,59 %, mrampang 79,43 % dan mbayang 84,49 %. Uji varians menunjukan bahwa jenis cacat flek dipengaruhi oleh kerumitan motif yang dibuat dan jumlah screen yang dipakai dalam produksi. Semakin rumit atau semakin tinggi ketelitian yang diperlukan, semakin tinggi pula kemungkinan untuk terjadi cacat flek. Semakin banyak screen yang dipakai untuk proses produksi semakin tinggi pula kemungkinan untuk terjadi cacat flek. Tetapi semakin rumit motif tidaklah selalu disertai dengan semakin banyaknya jumlah screen yang dipakai dalam proses produksi. Peta 1 kontrol p dan u menunjukan bahwa proses tidak terkendali. Diketemukan adanya korelasi antara jenis cacat flek dengan tidak kena obat, crease mark dengan sobek pingir, mrampang dengan water drop dan sobek pingir dengan warna tidak rata. Jenis cacat flek ban yak disebabkan oleh faktor diangkatnya screen karena jahitan sambungan antar kain akan lewat dan pengisian pasta baru. Tidak kena obat banyak disebabkan oleh karena sensor tidak jalan dan pasta tidak memenuhi squeege. Crease mark oleh lepasnya klip mesin dan kain yang melipat. Lubang kecil lebih banyak dipengaruhi oleh adanya cacat tenun dan terlubangi oleh klip mesin. Mrampang oleh kesalahan pada pemasangan blade sehingga tekanannya kurang dan pasta akan habis. Dan mbayang disebabkan oleh dryer mesin printing yang suhunya kurang tinggi dan kurang stabil. Rancangan kerja yang diterapkan oleh perusahaan adalah cara kerja operator, inspeksi tiga tempat, perawatan mesin-mesin dan komponennya, instruksi kerja di mounting, dapur obat, engraving, printing dan di sanfourize, pemasangan indikator lem blanket, pengurangan kecepatan pf.)ncucian di Haspel serta pembukaan gumpalan kain sebelum memasuki mesin Tention dryer dan pembersihan filter mesin stenter sekali dalam satu hari. Diagram pareto sesudah perbaikan menunjukan adanya pergeseran tingkat dominasi cacat dan penurunan persentase jumlah cacat. Setelah perbaikan, jenis cacat lubang kecil ada di peringkat pertama sebesar 31.17 % dari jumlah cacat total= 77. Lalu disusul oleh flek 54,55 %, tidak kena obat 74,03 %, crease mark 84,42 % ; mrampang 88,31 % dan mbayang 90,91%. Jenis cacat lubang kecil mengalami penurunan jumlah yaitu 37,25 %. Jenis cacat flek turun sebesar 81,91 %, tidak kena obat turun 79,66 %, crease mark turon 82,80 %, mrampang turun 91,78 % dan mbayang turun sebesar 89,33 %. Peta control setelah proses perbaikan menunjukan bahwa proses terkendali dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengendalikan proses produksi selanjutnya. Dan ada penurunan jumlah unit cacat dari 4,06 % dari menjadi 2,11 %.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
Divisions: Faculty of Engineering > Department of Industrial Engineering
Depositing User: Moch. Ali Syamsudin 197011
Date Deposited: 13 Dec 2013 02:23
Last Modified: 13 Dec 2013 02:23
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/6694

Actions (login required)

View Item View Item