Hubungan antara Persepsi terhadap Stigma Sosial dengan Harga Diri pada Penderita Epilepsi Grandmal

Fitriani, Novi War (2003) Hubungan antara Persepsi terhadap Stigma Sosial dengan Harga Diri pada Penderita Epilepsi Grandmal. [Undergraduate thesis]

Full text not available from this repository. (Request a copy)
Official URL: http://digilib.ubaya.ac.id/pustaka.php/148307

Abstract

Harga diri dianggap sangat penting karena merupakan suatu penilaian terhadap dirinya sendiri yang dianggap relatif tetap. Proses pembentukan harga diri dimulai sejak bayi baru lahir melalui interaksi dengan lingkungan keluarga yang paling utama. Selain lingkungan keluarga ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi yaitu lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memberikan pandangan yang positif dan negatif terhadap setiap individu. Bagi penderita epilepsi, masyarakat masih beranggapan penyakit epilepsi adalah penyakit memalukan, menular, kerasukan setan, keturunan sehingga masyarakat memberikan suatu stigma kepada penderita epilepsi. Penderita epilepsi yang memiliki harga diri yang tinggi akan mempersepsikan stigma sosial tersebut secara negatif artinya subjek akan mengabaikan pandangan masyarakat yang negatif terhadap dirinya, sebaliknya penderita epilepsi yang memiliki harga diri rendah akan mempersepsikan stigma sosial tersebut secara positif atau diterima. Subjek penelitian ( N=26) adalah pasien epilepsi grandmal yang terdaftar di poliklinik RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, yang berusia antara 18-30 tahun, yang berpendidikan minitnal SLTP, tidak cacat fisik dan belum menikah. Data penelitian ini diperoleh melalui angket terbuka dan angket tertutup untuk mengungkapkan variabel harga diri dan persepsi terhadap stigma sosial. Dari analisis data yang menggunakan statistik non-parametrik dengan teknik Korelasi spearman, diperoleh hasil rs =- 0,599 dan p < 0,0 l. Hasil tersebut juga memperlihatkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara persepsi terhadap stigma sosial dengan harga diri. Semakin tinggi harga diri individu, semakin negatif persepsi individu terhadap stigma sosial dan sebaliknya semakin rendah harga diri individu_, maka semakin positif persepsi individu terhadap stigma sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga diri penderita epilepsi tergolong tinggi (50%) dan sebanyak 38,96% menunjukkan bahwa persepsi terhadap stigma sosial termasuk rendah. Sumbangan efektif persepsi terhadap stigma sosial dengan harga diri sebesar 35,88%. Usaha psikososial yang diberikan pada penderita epilepsi adalah pendekatan terapi kognitif dengan teknik kolom tiga dan bertujuan untuk meningkatkan harga diri penderita. Saran bagi penelitian selanjutnya menggunakan interview untuk membahas harga diri lebih mendalam, mengingat angket memiliki banyak kelemahan.

Item Type: Undergraduate thesis
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
Divisions: Faculty of Psychology > Department of Psychology
Depositing User: Eko Wahyudi 197013
Date Deposited: 03 Mar 2014 02:34
Last Modified: 03 Mar 2014 02:34
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/8184

Actions (login required)

View Item View Item