PROSES PENGERINGAN RIMPANG TEMULAWAK (CURCUMA ZANTHORRHIZA) DENGAN PENJEMURAN LANGSUNG DAN PASSIVE SOLAR DRYER

Lie, Hwa and Sapei, Lanny and Tarigan, Elieser (2016) PROSES PENGERINGAN RIMPANG TEMULAWAK (CURCUMA ZANTHORRHIZA) DENGAN PENJEMURAN LANGSUNG DAN PASSIVE SOLAR DRYER. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Soebardjo Brotohardjono XI dan Temu Mitra PPPTMBG "Lemigas". ISSN 1978-0427

[img]
Preview
PDF
Proses Pengeringan Rimpang_Abstrak_2016.pdf

Download (703Kb) | Preview
[img] PDF
Proses Pengeringan Rimpang_2016.pdf
Restricted to Registered users only

Download (791Kb) | Request a copy

Abstract

Temulawak sering dikonsumsi sebagai minuman herbal untuk menjaga kesehatan tubuh. Serbuk temulawak yang sering dijual di pasaran, telah mengalami berbagai macam proses, termasuk proses pengeringan. Kandungan air dalam rimpang temulawak segar umumnya sekitar 75%. Agar rimpang temulawak lebih tahan lama, kandungan airnya perlu diturunkan melalui proses pengeringan. Kadar air maksimum dalam rimpang temulawak kering adalah 10% sesuai SK MENKES no. 661 tahun 1994 untuk mencegah pembusukan akibat timbulnya mikroorganisme selama penyimpanannya. Proses pengeringan rimpang temulawak sangat menarik untuk dipelajari. Dalam penelitian ini, bahan dikeringkan dengan dua cara, yaitu pengeringan dengan sinar matahari langsung dan pengeringan dengan alat indirect passive solar dryer. Rimpang temulawak diiris tipis-tipis sebelum dilakukan pengeringan. Proses pengeringan ini berlangsung selama 2 hari untuk mencapai kadar air rimpang temulawak di bawah 10%. Penjemuran rimpang temulawak di bawah sinar matahari langsung membutuhkan waktu sekitar 7 jam sedangkan dengan solar dryer membutuhkan waktu sekitar 6 jam pada cuaca terik, dimana pengamatan dilakukan sekitar bulan September dan Oktober 2015. Intensitas sinar matahari maksimum sekitar 800 W/m2 pada jam 9.30-12.00. Kelembaban udara relatif dan distribusi suhu dalam alat solar dryer serta kondisi lingkungan juga diamati selama penelitian. Penurunan berat rimpang temulawak dicatat setiap tiga puluh menit selama pengeringan tersebut, sehingga laju pengeringannya dapat dihitung dari data tersebut. Secara teoritis, proses pengeringan bahan terdiri dari 2 periode, yaitu periode laju pengeringan konstan dan periode laju pengeringan menurun. Dalam prakteknya, proses pengeringan rimpang temulawak ini juga memiliki kecenderungan yang sama dengan teorinya, dimana laju pengeringannya juga terdiri dari dua periode tersebut

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: temulawak, solar dryer, pengeringan
Subjects: Q Science > QD Chemistry
Divisions: Faculty of Engineering > Department of Chemical Engineering
Depositing User: Eko Setiawan 194014
Date Deposited: 08 Jun 2016 07:39
Last Modified: 13 Jun 2016 04:04
URI: http://repository.ubaya.ac.id/id/eprint/27912

Actions (login required)

View Item View Item